
Apa yang anda bayangkan dengan indonesia di tahun 2045? Indonesia Emas atau Indonesia cemas? Ga usah terlalu jauh, bayangkan kondisi indonesia di tahun 2027 terutama anak mudanya? apakah berita yang muncul adalah prestasi akademik siswa atau tawuaran dan kenakalan remaja di mana mana? Nah ini lah yang diangkat oleh Joko Anwar, kondisi Distopia Indonesia di tahun 2027 yang suram, kondisi masyarakat yang rawan konflik dan semakin menipisnya persatuan serta meningkatnya ego SARA.
Sebelum lebih jauh kita jelaskan dulu ini film tentang apa sih? Film ini menceritakan seorang guru yang mencari keponakannya di sebuah SMA yang berlokasi di Kota (jakarta) Timur. Guru ini mencari ponakan bukan tanpa alasan, karena ini adalah wasiat dari kakaknya sebelum meninggal. Tapi kenapa Guru ini mencari di sekolah sekolah yang anaknya hobi tawuran dan tidak hormat pada guru? ada alasan dibaliknya.
Film ini awalnya mau di set tahun 2015 mengingat adegan pertama mengisahkan kerusuhan Mei 1998, tapi mungkin dengan alasan Marketing di buat seakan-akan kerusuhan terjadi di tahun 2010 dan seting film berlatar tahun 2027.
Isu sentral yang dibawa oleh Joko Anwar sebagai sutradara adalah terkait Toleransi yang pudar di Indonesia, Konflik sosial masyarakat dan konflik agama walaupun itu hanya ditampakan di background scene. Namun, konflik terbesar adalah konflik Cina vs Pribumi yang sangat kental dengan suasana tahun 1998. Memanggil cina dengan Babi dan menganiaya pelajar cina sangat terasa sekali rasa kebencian pada suku ini, di sisi yang lain ada juga geng cina yang sebaliknya menganiaya pribumi karena balas dendam.
Konflik utama itu antara Guru yang kebetulan cina, dengan muridnya yang berandal beserta gengnya. Bagaimana usaha guru mendisiplinkan siswanya akhirnya berakhir dengan pengepungan di Sekolah Bukit duri.
Dilihat dari adegan dan ucapan yang keluar dari mulut para pemerannya yang keluar Anj*ng dan B*bi setiap adegan dan darah yang muncrat di mana-mana mohon tidak membawa anak kecil saat menonton film ini. Idealnya film ini di tonton 17+. kenapa? karena ucapan dan adegan kekerasan disini sangat terasa. saya ga kebayang bagaimana warga Tionghoa menonton film ini diantara penduduk pribumi. pasti sesak juga dan akan terbawa suasana apalagi latar belakang kerusuhan 98 yang ditampilkan di film ini. Salut dengan pemeran pembantu dan pemeran tambahan yang benar benar menjiwai perannya tampak real dan benar benar liar.
Di sisi yang lain kadang saya berpikir, ini Lembaga sensor film ga bekerja sama sekali ya atau memang diseting tidak boleh di potong karena dialog itu kalau di sensor akan mengurangi isi film, ga tahu saya tapi intinya jangan bawa anak kecil. Ada ucapan sumpah serapah yang menurut saya seakan akan hanya menterjemahkan kata “F*ck” menjadi “Ngent*t” tapi klo didengar jadi wagu dan ga natural, terasa di paksakan jadi gimana ya . contoh gini. ” F*ck you” di gantimenjadi “Ng*nt*t loe” . kan aneh? menterjemahkan sumpah serapah bahasa asing dan dipaksa kata “Ngent*t” dengan narasi film sepertinya ga pas gitu . Karena saya jarang mendengar di lapangan ucapan itu di ucapkan dan terdengar janggal.
Intinya film ini bagus untuk 17+ karena hampir tidak ada adegan sia-sia. semuanya terkoneksi bahkan latar suara atau background scene pun punya sarat pesan sosial misal ” Ibadah jangan ngebom” atau kalimat lain yang ada di tembok fasilitas umum.
Cukup sekian reviewny, untuk review spoiler mungkin akan saya bahas di posting lain. Ssatu lagi yang bikin hidup film ini itu pemeran Jefri yang diperankan oleh Omara Esteghlal. Tokoh antagonis si ketua geng brandal di sekolah bukti duri ini Sudah layak masuk penghargaan salah satu pemeran antagonis terbaik tahun ini.
Kita lanjut nanti di review spoiler di postingan berikutnya